Senin, 21 Maret 2016

CEK DATA PTK DAPODIK DIKMEN UNTUK GURU

Jika anda sudah bisa pahami mari kita mulai mengecek info PTK / GTK terbaru anda :
SILAHKAN KLIK LINK DI BAWAH INI :
Klik Cek Info PTK / GTK di Link Pertama  : 223.27.144.195:8081
Klik Cek Info PTK / GTK di Link Kedua     : 223.27.144.195:8082
Klik Cek Info PTK / GTK di Link Ketiga     : 223.27.144.195:8083
Klik Cek Info PTK / GTK di Link Keempat : 223.27.144.195:8084
Klik Cek Info PTK / GTK di Link Kelima    : 223.27.144.195:8085

Senin, 17 Agustus 2015

MEMAHAMI DAN PRAKTIK PENULISAN BERBAGAI JENIS TEKS



MEMAHAMI DAN PRAKTIK PENULISAN BERBAGAI JENIS TEKS
(Fairul Zabadi, Pusat Pembinaan, Badan Bahasa)


Apa itu teks?

1. Pengertian Teks dan Jenisnya
                Teks merupakan satuan bahasa; dapat dimediakan secara tulis atau lisan; ditata menurut struktur teks;  mengungkapkan makna secara kontekstual (untuk yang faktual), direkontekstualkan (untuk yang nonfaktual makna); dan bersifat fungsional: teks mempunyai fungsi sosial atau tujuan sosial.

2.    Apakah teks sama dengan genre?
Teks dibicarakan dalam teori genre, dan genre didefinisikan sebagai “proses sosial yang berorientasi pada tujuan yang dicapai secara bertahap” (Martin, 1992; Martin & Rose, 2003). Secara luas, genre adalah proses sosial yang melatarbelakangi lahirnya teks. Secara sempit, genre dimaknai sebagai jenis teks.
Sebuah jenis teks hanya dapat dimaknai dengan menggali konteks sosialnya, yang meliputi konteks situasi dan konteks budaya. Dari sini dapat diungkapkan bahwa teks yang berbeda mempunyai tujuan sosial yang berbeda.

JENIS-JENIS TEKS:
1)    Berdasarkan konteks penciptaan: teks faktual dan teks nonfaktual.
Teks faktual: teks yang diciptakan berdasarkan kenyataan. Teks faktual meliputi deskripsi, laporan, rekon/cerita ulang, prosedur, eksplanasi, eksposisi, dan diskusi.
Teks nonfaktual: teks yang diciptakan berdasarkan rekaan. Teks nonfaktual meliputi rekon, anekdot, eksemplum, dan naratif.

2)    Berdasarkan hubungan logikosematika: teks sederhana (tunggal) dan teks kompleks (majemuk).
Teks sederhana/genre mikro: teks yang berdiri sendiri secara tunggal sesuai dengan jenis-jenis di atas
Teks makro/genre makro: teks yang berwujud dalam campuran dari berbagai jenis: ( negosiasi, editorial, iklan, brosur, surat, proposal, artikel ilmiah, dan pidato).

TEKS DALAM GIMM
1.    Teks Laporan Hasil Observasi
2.    Teks Deskripsi
3.    Teks Prosedur
4.    Teks Eksplanasi
5.    Teks Eksposisi
6.    Teks Narasi
7.    Teks Anekdot
8.    Biografi
9.    Negosiasi
10. Cerita Pendek


1)      TEKS LAPORAN (HASIL OBSERVASI)
Fungsi sosial: untuk membuat klasifikasi mengenai sesuatu
Klasifikasi: kelas dan subkelas
Struktur teks:   Pernyataan Umum  dan  Klasifikasi,
Bersifat umum, universal,
Mengandung hubungan semantis: hiponimi, kohiponimi untuk menyatakan hubungan antara kelas dan subkelas,
Mengandung banyak kelompok nomina dan verba (material)
Menggunakan konjungsi aditif (seperti dan, tetapi, dan sedangkan),

Contoh:
Bunga

Pernyataan Umum (Definisi umum)  
Semua tanaman bunga terdiri atas empat organ penting: batang, akar, daun, dan bunga.

Klasifikasi (definisi bagian) 
Batang merupakan bagian terpenting pada tanaman bunga, baik pada tanaman keras maupun pada tanaman perdu. Akar berada di bagian bawah batang dan biasanya tumbuh di bawah tanah. Sebagian tanaman bunga mempunyai akar tunjang, dan sebagian yang lain mempunyai akar serabut. Daun melekat di ranting-ranting di samping batang. Sebagian tanaman berdaun panjang dan tipis, sedangkan sebagian yang lain tebal dan bulat. Ada daun tunggal, ada pula daun bercabang. Bunga terletak di ujung ranting. Bunga mengandung organ reproduksi. Pada sebagian besar tanaman, dalam satu bunga terdapat organ betina dan organ jantan. Dalam tanaman yang lain organ betina dan organ jantan ditemukan pada bunga yang berbeda. 

Biota Laut
1        Biota laut adalah seluruh makhluk hidup yang berkembang biak di laut. Biota laut yang ada di perairan Indonesia merupakan salah satu kekayaan Indonesia yang sangat berlimpah. Biota laut itu di antaranya terumbu karang, ikan, dan tumbuh-tumbuhan laut  yang menjadi bagian dari ekosistem laut (Definisi Umum)
2        Terumbu karang di Taman Nasional Bunaken sangat banyak jenisnya. Terumbu karang ini hidup di pantai atau daerah yang terkena cahaya matahari dan hidup di perairan yang berada kurang lebih lima puluh meter di bawah permukaan laut dengan suhu tertentu, serta di air jernih yang tidak terkena polusi. Di samping terumbu karang, Taman Laut Bunaken juga dihuni beragam jenis ikan, seperti ikan kuda gusumi, oci putih, lolosi ekor kuning, goropa. Ikan lain di laut Indonesia yang sudah dijadikan industri, antara lain ikan tuna, tongkol, tenggiri, kerapu, baronang (Definisi Bagian).
3        Di samping terumbu karang dan ikan, laut Indonesia juga memiliki  tumbuhan laut. Di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, misalnya dibudidayakan rumput laut dan penanaman bakau. Rumput laut di sini sangat beragam bentuknya, ada yang bulat seperti tabung, pipih dan gepeng, ada yang bulat seperti kantong, dan ada juga yang terurai seperti rambut. Semua dapat hidup karena perawatannya dipantau secara berkala untuk melihat perkembangannya.  (Definisi Bagian)
4        Ketiga biota laut tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti ikan dan rumput laut bermanfaat bagi kesehatan karena banyak mengandung gizi.  Terumbu karang itu juga berguna bagi ekologi dan ekonomi. Di samping itu, biota laut Indonesia juga bermanfaat bagi perkembangan pariwisata, seperti Raja Ampat di Papua, pulau Wangi-Wangi di Sulawesi Tenggara, dan Bunaken di Menado. Keragaman biota laut ini juga bermanfaat bagi lingkungan, terutama bakau yang telah menahan abrasi dari besarnya hantaman gelombang dan ombak laut (Manfaat)

2)      TEKS DESKRIPSI
Fungsi sosial: untuk menguraikan sesuatu secara individual menurut ciri-ciri fisiknya.
Ciri-ciri teks deskripsi:
                                 ditata dengan struktur teks: Pernyataan Umum dan
Bagian yang Dideskripsikan,
                        bersifat unik, individual
                                 mengandung hubungan semantis: meronimi dan komeronimi (hubungan antara keseluruhan dan bagian-bagian,
                        mengandung banyak kelompok nomina dan verba
                        menggunakan konjungsi (seperti dan, tetapi, dan sedangkan),
                        menampilkan partisipan umum, bukan manusia.


Contoh:
Ruang Belajarku


Ruang belajar adalah ruang pribadi, dan demikian pula milikku. Hanya aku sendiri yang menggunakan ruang itu (Pernyataan Umum). 

Ruang belajarku luas, berukuran 4 meter x 4 meter. Lantainya bersih, terbuat dari keramik. Dindingnya dicat biru, dan langit-langitnya dicat putih. 
Di siang hari, kamarku terang. Jendela dan pintunya menghadap ke kebun. Udara segar langsung mengalir ke dalam. Suasananya selalu sejuk, dan nyaman untuk belajar berlama-lama. Di malam hari, ruang belajarku tetap nyaman dan terang. Lampu 100 watt yang tergantung di langit-langit itu cukup dapat menerangi setiap sudut ruang. Ruang belajar yang nyaman merupakan surga bagiku (Bagian yang Dideskripsikan)

3)      TEKS PROSEDUR
Ciri-Ciri:
Fungsi sosial: untuk memberikan petunjuk mengenai cara mengerjakan sesuatu. (petunjuk itu merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh agar pekerjaan itu dapat diselesaikan). Pada petunjuk pengerjaan sesuatu atau pengoperasian sebuah alat, langkah-langkah yang dimaksud merupakan langkah-langkah bersyarat, yaitu langkah-langkah yang terdahulu menentukan langkah-langkah yang kemudian, sehingga apabila langkah-langkah itu tidak ditempuh secara urut, barang yang dibuat itu tidak jadi atau alat yang dioperasikan tersebut tidak dapat beroperasi. 
Struktur:
                        ditata dengan struktur teks: Tujuan dan Langkah-langkah,
                        menggunakan verba material,
                                 menggunakan imperatif untuk memberikan perintah atau arahan kepada mitra bicara/pembaca (Kamu, Anda); apabila pihak yang diperintah atau diarahkan tidak disebutkan, bentuk pasif cenderung digunakan,
                                 memanfaatkan konjungsi seperti pertama, kedua, sebelum, dan sesudah untuk mengatur urutan langkah yang tidak dapat dibalik-balik,
                        menampilkan partisipan manusia.


Contoh:
Cara Memasak Mi Instan
  
Tujuan
Cara memasak mi instan sangat sederhana.

Langkah-langkah
                        1. Rebus air sampai mendidih.
                        2. Masukkan mi ke dalam air mendidik itu, dan tunggulah selama 3 menit.
                      3. Sambil menunggu, siapkan di dalam mangkok campuran bumbu, minyak bumbu, dan bubuk cabe.
                      4. Tuangkan mi yang sudah masak itu ke dalam mangkok, dan aduklah sampai campuran bumbu rata.
                        5. Mi instan siap disajikan.


4)      TEKS EKSPLANASI
Ciri-Ciri:
Berhubungan dengan rentetan peristiwa yang berhubungan secara logis
Fungsi sosial: untuk menjelaskan proses terjadinya sesuatu menurut prinsip-prinsip sebab-akibat
Struktur:
                                 ditata dengan struktur teks: Pernyataan Umum,  Urutan Sebab-akibat (Deretan penjelas), Interpretasi (pilihan)
                        menggunakan verba material dan relasional,
memanfaatkan bentuk aktif
                        menggunakan konjungsi temporal dan kausal, seperti ketika, setelah, asalkan, karena, sehingga, dan oleh sebab itu untuk menerangkan hubungan sebab-akibat, 
memanfaatkan verba tertentu untuk menyatakan sebab-akibat, seperti menyebabkan, mengakibatkan, membuat, atau menghasilkan.

Contoh:





Tsunami
Kata “tsunami” berasal dari bahasa Jepang “tsu”yang berarti ‘pelabuhan’ dan “nami” yang berarti ‘gelombang’. Tsunami adalah serangkaian gelombang yang terbentuk karena gempa atai letusan gunung berapi di bawah laut atau didaratan dekat pantai. Gelombangnya yang besar menyebabkan banjir dan kerusakan saat menghantam pantai. (Pernyataan Umum)


Tsunami tercipta saat permukaan dasar laut bergerak naik turun (pergeseran lempeng di dasar laut) di sepanjang patahan selama gempa terjadi. Patahannya menyebabkan keseimbangan air menjadi terganggu. Semakin besar daerah patahan yang terjadi, semakin besar pula tenaga gelombang yang di hasilkan. Selain itu, tsunami juga tercipta karena meletusnya gunung berapi yang menyebabkan pergerakan air di laut atau perairan sekitarnya sangat tinggi. Gelombang tsunami yang terjadi di laut  melaju lebih cepat  daripada gelombang normal. Gelombang tersebut menyebar ke segala arah dengan ketinggian 30 sampai dengan 50 meter  dan kecepatan sekitar 800 km/jam. Ketika gelombang tsunami memasuki air dangkal, kecepatannya akan menurun dan ketinggiannya akan bertambah. Ketinggian gelombang  itu juga bergantung pada bentuk pantai dan kedalamannya.Gempa bumi yang tejadi di dasar laut sangat berpotensi  menimbulkan tsunami dan sangat berbahaya bagi manusia. (Sebab-akibat/Deretan penjelasan)

Kamu tidak perlu khawatir karena tidak semua gempa dan letusan gunung berapi menyebabkan tsunami dan tidak semua tsunami menimbulkan gelombang besar. Tsunami selalu menyebabkan kerusakan besar bagi manusia. Kerusakan yang paling besar terjadi ketika gelombang besar tsunami itu  mengenai pemukiman manusia sehingga menyeret apa saja yang dilaluinya. (Interpretasi)



Contoh:
Bagaimana Binatang Dapat Punah?

Pernyataan Umum 
Binatang tertentu menjadi langka dan terancam punah sebagai akibat dari perubahan kondisi alam, perilaku binatang pemangsa, dan perburuan yang dilakukan oleh manusia. 

Urutan Sebab-Akibat  
Pertumbuhan penduduk di bumi ini menimbulkan bertambahnya permukiman, pabrik, perkantoran, dan lain-lain. Pembangunan permukiman, pabrik, dan perkantoran itu dilakukan dengan memanfaatkan wilayah hutan tempat berbagai jenis binatang hidup. Ketika hutan dirusak untuk tujuan-tujuan tersebut, habitat atau wilayah tempat binatang-binatang itu hidup akan berkurang. Hal itu menyebabkan ketersediaan pangan untuk binatang-binatang itu berkurang. Perubahan kondisi alam yang demikian itu menyebabkan kepunahan beberapa spesies binatang yang hidup di hutan tersebut. 

Urutan Sebab-Akibat 
Binatang pemangsa atau predator juga dapat mengurangi jumlah spesies binatang tertentu. Jumlah binatang terus berkurang karena binatang tertentu memangsa binatang yang lain. Dalam habitat yang terus menyempit, persaingan hidup di antara berbagai jenis binatang menjadi makin ketat. Binatang yang lemah menjadi mangsa binatang yang lebih kuat. Karena hewan tertentu memangsa binatang yang lain, jumlah binatang yang

dimangsa menjadi terus-menerus berkurang hingga akhirnya punah. 

Urutan Sebab-Akibat  
Manusia ikut menyumbang kepunahan binatang karena manusia memburu jenis binatang tertentu tanpa kendali. Perburuan dilakukan untuk mendapatkan daging untuk dimakan oleh manusia atau untuk tujuan perdagangan binatang secara tidak sah atau untuk dibunuh agar bagian tubuhnya dapat dijual dengan harga mahal. Misalnya, gajah diburu untuk diambil gadingnya, harimau diburu untuk diambil kulitnya, kura-kura diburu untuk diambil cangkangnya. Jumlah binatang itu terus berkurang. Perburuan binatang secara tidak terkendali dapat menyebabkan jenis binatang tertentu punah.



5)      TEKS EKSPOSISI
Teks eksposisi: teks yang berisi gagasan pribadi atau usulan mengenai sesuatu. Teks eksposisi juga sering disebut argumentasi satu sisi. Dikatakan demikian karena pencipta teks ini mempertahankan gagasan atau usulannya berdasarkan argumentasi yang ia yakini benar tanpa membandingkannya dengan argumentasi dari pihak lain.
Ciri-Ciri:
                                 Ditata dengan struktur teks: Pernyataan Pendapat, Argumentasi, Pernyataan Ulang Pendapat (Penegasan pendapat)
                        Berisi argumentasi satu sisi,
                                 Menggunakan konjungsi seperti pertama, kedua, dan selanjutnya untuk menata gagasan (yang tidak harus urut); atau konjungsi seperti bahkan, juga, sebagai contoh, misalnya, dan dengan demikian untuk memperkuat gagasan; atau kelompok kata yang bermakna konjungtif, seperti kenyataan bahwa, diketahui bahwa, dan dapat digarisbawahi bahwa,
Memanfaatkan kata ganti persona saya, kami, atau kita untuk menyatakan klaim pendapat atau keberpihakan,
                        Memanfaatkan modalitas (akan, pasti, harus, dan tentu) sebagai pewatas


Contoh:
Teknologi Tepat Guna

Program kewirausahaan untuk perluasan kesempatan kerja yang dilakukan lewat terapan teknologi tepat guna (TTG) dapat memberdayakan ekonomi rumah tangga. Kagiatan ini banyak dimanfaatkan, terutama, oleh masyarakat perdesaan. Ada beberapa alasan dan contoh mengapa mengapa TTG dapat memberdayakan ekonomi keluarga. (Pernyataan Pendapat)

Pertama, program kewirausahaan terapan TTG pembuatan susu kedelai dapat meningkatkan taraf hidup tanpa mengurangi tenaga kerja. Adanya terapan teknologi tepat guna akan meningkatkan nilai tambah  dengan  tenaga kerja yang tetap, tetapi penghasilan bisa bertambah. Di samping itu, program ini juga dapat meningkatkan produktifitas. Produk kedelai yang diolah dengan TTG akan menghasilkan kualitas susu kedelai yang lebih baik dalam waktu lebih singkat.
TTG dapat juga digunakan untuk menggali potensi suatu wilayah untuk meningkatkan ekonomi masyarakatnya. TTG dapat menjadi sarana untuk menciptakan peluang kerja mandiri dan memperluas kesempatan kerja. (Argumenetasi/Pendapat).

Oleh karena itu, program tersebut perlu dikembangkan karena terbukti dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. (Penegasan Ulang Pendapat)

Contoh lain
Pemimpin Sosial dan Politik Tidak Harus Mempunyai
Pendidikan Formal yang Tinggi
  
Pernyataan Pendapat
Sudah diketahui oleh semua orang bahwa pendidikan formal itu penting. Akan tetapi, apakah seseorang akan menjadi pemimpin sosial atau pemimpin politik yang bagus pada kemudian hari tidak selalu ditentukan oleh pendidikan formalnya. Diyakini bahwa pengalaman juga menjadi faktor penentu untuk menuju kesuksesan. 

Argumentasi
Betul bahwa pendidikan formal memberikan banyak manfaat kepada para calon pemimpin
atau calon orang terkemuka, tetapi pelajaran yang mereka peroleh dari pendidikan formal tidak selalu dapat diterapkan di masyarakat tempat mereka menjadi pemimpin atau menjadi orang terkenal di kemudian hari. Kenyataan bahwa di sekolah dan di perguruan tinggi, orang hanya “mempelajari” teori, sedangkan di masyarakat, orang betul-betul belajar untuk hidup melalui beraneka ragam pengalaman. Pengalaman semacam inilah yang menghasilkan orang-orang terkemuka, termasuk pemimpin sosial dan politik. Orang-orang terkemuka dan pemimpin-pemimpin itu lahir dari hal-hal yang mereka pelajari di masyarakat. 

Sekadar menyebut contoh orang terkemuka atau pemimpin sosial dan politik, kita dapat menunjuk beberapa nama. Almarhum Adam Malik, konon ia hanya menyelesaikan jenjang pendidikan dasar tertentu, diangkatmenjadi Wakil Presiden Indonesia bukan karena pendidikan formalnya, melainkan karena kapasitas yang ia dapatkan dari belajar secara otodidak. Almarhum Hamka adalah contoh pemimpin lain yang lahir dari caranya belajar sendiri. Ia juga menjadi pemimpin agama dan sastrawan terkenal sekaligus karena pengalaman belajar pribadinya, bukan karena pendidikan formalnya yang tinggi. Bahkan, Einstein tidak mempunyai reputasi pendidikan formal yang bagus, tetapi melalui usahanya untuk belajar dan melakukan penelitian sendiri di masyarakat, ia terbukti menjadi ahli fisika yang sangat termasyhur di dunia. 

Pernyataan Ulang Pendapat
Dengan demikian, jelaslah bahwa melalui pendidikan formal orang hanya mempelajari cara belajar, bukan cara menjalani hidup. Meskipun pendidikan formal diperlukan, pendidikan formal bukan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh oleh setiap orang untuk menuju ke puncak kesuksesannya.

(Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 103-104)


6)      TEKS ANEKDOT
Teks anekdot: teks rekaan yang berisi peristiwa yang membuat partisipan yang mengalaminya jengkel atau konyol (apabila negatif) dan gembira yang berlebihan (apabila positif)
Ciri-ciri:
                        Ditata dengan struktur teks: Abstrak, Orientasi, Krisis, Reaksi, Koda (pilihan)
Mengandung muatan interpersonal bahwa perasaan jengkel dan konyol merupakan krisis yang ditanggapi dengan reaksi kepada pihak lain mengenai pertentangan antara nyaman/tidak nyaman, aman/tidak aman, puas/frustrasi, dan tercapai/gagal,
Menampilkan partisipan yang cenderung menyalahkan pihak lain (apabila negatif) atau merasa terbantu olehnya (apabila positif), 
                        Dalam hal yang negatif, sering dijadikan alat kritik.  

Contoh:
KUHAP dalam Anekdok

1.     Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana (Abstrak).
2.    Suasana kelas biasa-biasa saja (Orientasi)
3.    Saat sesi tanya-jawab tiba, Ali bertanya kepada pak dosen. “Apa kepanjangan KUHP, Pak?” Pak dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad. “Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta pak dosen. Dengan tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara, Pak …!” (Krisis)
4.   Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban itu?” Dasar Ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas, “Peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, Pak …!” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. (Rekasi)
4       Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal. (Koda)

(Diadaptasi dari http://fuadusfa4.blogspot.com/2010/02/anekdot-hukum.html)
Contoh:
Kejadian di Rumah Susun

 Abstrak
Saya tinggal di rumah susun. Saya mempunyai pengalaman yang memalukan tadi pagi. 
 
Orientasi 
Tetangga sepasang suami isteri yang tinggal di lantai bawah saya tadi malam menyelenggarakan pesta bersama teman-teman mereka. Tadi malam mereka sangat gaduh, isteri saya terbangun berkali-kali, tetapi tidaklah mengapa. 
 
Krisis 
Lalu tadi pagi terdapat sebuah mobil diparkir di depan jalan keluar kami. Saya mengira bahwa mobil itu milik seseorang yang ikut pesta tadi malam. Saya mengetuk pintu tetangga saya itu. Saya ketuk pintunya berkali-kali, tetapi tak seorang pun keluar. 
Saya kira mereka masih tertidur karena mereka berpesta-pora sampai larut malam, sehingga saya ketuk-ketuk terus dengan keras: pintu, jendela, dan apa pun yang dapat saya ketuk dalam jangkauan. Akhirnya, seorang laki-laki terbangun dan melongok keluar jendela. Saya menjelaskan persoalan yang terjadi. Ternyata, pesta tadi malam itu bukan pestanya. Rumah susun ini terbagi menjadi dua sisi, dan itu adalah pesta orang yang tinggal di sisi sebelah belakang.

Reaksi 
Lelaki itu terlihat tidak berkenan, karena, seperti saya dan Jane, ia juga tidak dapat tidur semalam, terganggu oleh pesta tetangga di sisi sebelah lain itu! 

Koda
Saya masih belum tahu mobil siapa yang menghalangi jalan keluar kami itu. 



7)      TEKS NARASI
Teks naratif: teks rekaan yang berisi komplikasi yang menimbulkan masalah yang memerlukan waktu untuk melakukan evaluasi agar dapat memecahkan masalah tersebut. 
Ciri-ciri:
Ditata dengan Struktur teks: Abstrak, Orientasi, Komplikasi, Evaluasi, Resolusi, Koda,
                        Pada umumnya dijumpai pada dongeng, hikayat, legenda, cerita pendek, novel, atau drama,
                        Menampilkan partisipan saling bergesekan, sehingga timbullah konflik,
                        Menunjukkan bahwa konflik dievaluasi untuk mendapatkan solusi.


Contoh: Sahabat Sejati
  
Abstrak
Betapa enak menjadi anak orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia.

Orientasi
Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan sopir pribadi.
Meskipun demikian, ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul.

Seperti pada kawan-kawan, Iwan yang datang ke rumah. Mereka menyambutnya secara kekeluargaan sehingga kawannya banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.



Komplikasi
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon. Rumah momon masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.

“Ke mana, ya, Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tak pernah absen. Selalu datang.” “Mungkin sakit!” jawab Mama.
“Ih, iya, siapa tahu ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin nengok!” katanya bersemangat.

Sudah tiga kali pintu rumah Momon diketuk. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian ia menanyakan ke tetangga sebelah rumah Momon.

Ia mendapat keterangan bahwa Momon sudah dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar berita, bapaknya di-PHK dari pekerjaan.

Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.

“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam hati.

Di rumah Iwan tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah wajahnya selalu murung.

“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa menegur.
“Momon, Pa”. “Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?” Iwan menggeleng.
“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu. “Momon sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.

Evaluasi 
Papa menatap wajah Iwan tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.

“Kalau Papa tidak percaya, tanya deh, Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya. “Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong Momon!” “Maksudmu?”
“Aku ingin Momon bisa berkumpul kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak. “Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat rumah Momon di desa itu!” kata Papa.

Dua hari kemudian Iwan baru berhasil memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang.

Ini karena berkat pertolongan pemililk rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon.

Kemudian Iwan bersama Papa datang ke rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam.Tempatnya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau dengan naik ojek. Jaraknya kurang lebih dua kilometer.


Kedatangan mereka disambut orang tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon tatkala bertemu Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu.

Semula Momon agak kaget dengan kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau mau pindah ke desa.

“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat memberi tahu kamu!” “Ah tak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”

Resolusi
Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua Momon tidak berkeberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.

“Begini, Mon, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami anggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” tanya Papa.
“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan menanggung.”
“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”

Koda 
Kemudian, Iwan bangkit dari tempat duduk lalu mendekat dan memeluk Iwan. Tampak mata Iwan dan Momon berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.
Akhirnya, mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan.
Kini Momon tinggal di rumah Iwan, sedangkan orang tuanya masih tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Momon yang sudah tua.

Oleh Suhartono Bobo No.35/XXVI 
(http://www.diaryremaja.com/cerpen-sahabat-sejati.html)

8)      TEKS BIOGRAFI/Cerita Ulang
Teks biografi: menceritakan kembalai tentang seseorang mulai dari hal umum tentang orang itu, kemudian dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Dalam dertetan peristiwa sering juga dimunculkan maslah yang diterjadi pada tokoh.

Ciri-ciri:
Tujuan sosial: untuk mengetahui riwayat dan perjalan hidup tokoh sehingga dapat memberi pembelajaran bagi pembaca.
Ditata dengan struktur: Orientasi (pengenalan), Deretan Peristiwa (rekaman kejadian)
Pada umumnya menggunakan konjungsi: pada mulanya, dan, kemudian, akhirnya.





Contoh:


MERAIH PRESTASI PADA USIA SENJA

Tineke telah berusia 83 tahun dan berambut putih. Meskipun demikian, semangat dan tekadnya tidak pernah kendur untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Prestasinya yang spetakuler di dunia atletik patut dicontoh dan dihargai. Meskipun telah berusia lanjut, wanita berbadan tegap tersebut tetap aktif mengikuti berbagai lomba atletik hingga tingkat internasional. (Orientasi)
Tekad Tineke untuk menjadi atlet diawali ketika Pekan Olah Raga Nasional (PON) I yang diadakan di Solo 1948. Pada saat itu, wanita yang pernah tinggal di Belanda itu datang ke stadion dan melihat langsung pertandingan atletik.  Kemudian, dia mulai berlatih dan terus berlatih. Akhirnya, karena tekad kuatnya, wanita berambut pendek itu terpilih mewakili DKI Jakarta pada PON ke-2 di Jakarta. Pada saat itu, dia berhasil menyabet medali emas untuk lari estafet 4 x 100 meter.  Kemudian, pada PON ke-4 dan ke-5 dia tidak bisa ikut karena sudah menikah dan pindah ke Belanda. (Peristiwa)
Setelah kembali ke tanah air, Tineke aktif lagi di dunia atletik. Ketika itu, dia menjadi petugas pemanggil peserta lomba. Kemudian, ketika dia berusia 52 tahun, Tineke mengikuti lomba atletik di Singapura.  Dia mendapat medali emas pada cabang lompat jauh dan lari 100 meter. Sejak saat itu, Tineke kembali aktif mengikuti lomba untuk kelompok umur senior. Akhir tahun lalu, ia berhasil menyabet tiga medali untuk kelompok umur  80—84 pada petandingan intenasional di Taiwan. (Peristiwa)
Tineke Matulessy tidak akan berhenti berlari meskipun sudah tua. Dia harus lari dan terus berlari agar tetap sehat dan terkenal. Ia menjadi terkenal karena berlari. (Reorientasi)

Diolah dari sumber: Kompas, Sabtu, 20 Januari 2013


9)    TEKS NEGOSIASI
Teks negosiasi: memberikan tanggapan untuk tujuan tertentu; tanggapan-tanggapan yang diberikan akhirnya mendapat kesepakatan dan persetujuan
Ciri-ciri:
Tujuan sosial: menegosiasikan sesuatu agar terjadi kesepakatan, seperti hubungan, informasi barang dan layanan
Ditata dengan struktur: Orientasi, Pengajuan, Penawaran, Persetujuan, Penutup  

Contoh:

Negosiasi antara Karyawan dan Pengusaha

Setelah para karyawan sebuah perusahaan di bidang elektronika melakukan aksi mogok kerja dengan melakukan demonstrasi di depan kantor perusahaan, akhirnya wakil perusahaan itu menerima wakil para karyawan untuk berdialog. Dialog itu dijaga oleh sejumlah petugas keamanan. Sementara itu, beratus-ratus karyawan masih berdemonstrasi di depan kantor perusahaan. (Orientasi/pembukaan)


1.
Wakil karyawan
:
Selamat sore, Pak.
2.
Wakil perusahaan
:
Selamat sore. Mari, silakan duduk.
3.
Wakil karyawan
:
Ya, terima kasih.
4.
Wakil perusahaan
:
Saya, Hadi Winoto, wakil dari perusahaan.  Anda siapa?
5.
Wakil karyawan
:
Saya Suparmin, yang dipercaya teman-teman untuk menemui pimpinan.



(Mereka bersalaman)
6.
Wakil perusahaan
:
Sebenarnya, apa yang terjadi? Semua karyawan di perusahaan ini melakukan demonstrasi. Kalau begini caranya, perusahaan bisa bangkrut dan karyawan bisa di-PHK.
7.
Wakil karyawan
:
Tidak ada apa-apa, Pak. Kami hanya ingin memperbaiki nasib dan hidup layak.
8.
Wakil perusahaan
:
Maksudnya?
9.
Wakil karyawan
:
Ya, pasti Bapak tahu. Kami, karyawan, sudah bekerja keras demi perusahaan. Tetapi, kami merasa kurang mendapatkan imbalan yang pantas. Kami tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dengan uang Rp2.000.000,00 sebulan. Paling tidak, kami menerima upah sebesar Rp3.000.000,00.
10.
Wakil perusahaan
:
Itu tidak mungkin. Perusahaan sudah menanggung beban terlalu berat. Listrik naik, bahan bakar naik, dan biaya operasional lain juga naik. Kenaikan UMP (upah minimum provinsi) belum bisa naik sekarang.
11.
Wakil karyawan
:
Kalau begitu, kami tetap akan melakukan aksi mogok kerja sampai tuntutan kami dipenuhi.
12.
Wakil perusahaan
:
Tidak boleh demikian. Kita harus mencari jalan tengah.
13.
Wakil karyawan
:
Lalu, bagaimana?
14.
Wakil perusahaan
:
Saya akan mengusulkan kenaikan tersebut kepada direksi. Perusahaan hanya mampu menaikkan UMP sampai Rp2.400.000,00. Tidak lebih dari itu. Anda sendiri tahu bahwa pada situasi global ini perusahaan mana pun mengalami kesulitan.
15.
Wakil karyawan
:
Tidak bisa, Pak. Ini kota Jakarta, Pak. Semua harus dibeli dengan uang. Ya, tolong diusahakan bagaimana caranya agar kami dapat hidup layak. Paling tidak kami menerima gaji sebesar Rp2.800.000,00.
16.
Wakil perusahaan
:
Nanti saya akan mengusulkan ke direksi sebesar Rp2.600.000,00.
17.
Wakil karyawan
:
Tapi, usahakan lebih, Pak. Kami akan bekerja lebih keras lagi.
18.
Wakil perusahaan
:
Baiklah, akan saya coba. Tolong kendalikan teman-teman karyawan dan sampaikan kepada mereka mulai besok semua karyawan harus masuk kerja kembali. Karyawan yang mogok kerja akan kena sanksi.
19.
Wakil karyawan
:
Baik, Pak. Terima kasih. Boleh saya keluar?
20.
Wakil perusahaan
:
Ya, silakan.
21.
Wakil karyawan
:
Ya, terima kasih. Selamat sore.
22.
Wakil perusahaan
:
Selamat sore.



(Mereka bersalaman) (Pengajuan, penawaran, persetujuan)

Begitu Suparmin keluar dari kantor perusahaan, dia disambut oleh teman-temannya. Dia lalu menyampaikan hasil dialog dengan wakil perusahaan bahwa UMP mereka diusulkan naik paling tidak sebesar Rp2.600.000,00.(Penutup)


10)  TEKS CERITA PENDEK
Teks cerpen: berisi pengisahan tentang seseorang/kelompok orang dengan tujuan menyelsaikan masalah
Tujuan sosial: menyelesaikan masalah dalam sebuah cerita
Ciri-ciri:
Ditata dengan dengan truktur: Orinetasi (Pengenalan), Masalah (Komplikasi), Pemecahan masalah (Resolusi)

Contoh:
Kupu-Kupu Ibu

Aku melihatnya. Aku melihat perempuan yang pernah kau ceritakan. Sepulang sekolah tadi, di dekat taman, aku melihat sepasang kupu-kupu berputar saling melingkar. Akan tetapi, mereka tak seperti kupu-kupu dalam ceritamu, Ayah. Mereka lebih cantik. Yang satu berwarna hitam dengan bintik biru bercahaya seperti mutiara. Yang lain bersayap putih jernih, sebening sepatu kaca Cinderella, dengan serat tipis kehijauan melintang di tepi sayapnya.
Aku takjub. Aku mengejarnya. Kupu-kupu itu masuk ke dalam taman, dan aku terus saja mengikutinya. Dan ternyata kedua kupu-kupu itu menghampiri seorang perempuan yang duduk di bangku yang agak terpisah dari bangku-bangku taman lainnya. Kupu-kupu itu asyik berputar-putar di atas kepala perempuan itu.
Aku tersadar. Itu perempuan yang Ayah ceritakan. Sebelum aku sempat membalikkan badan untuk meninggalkan taman itu, ia berbicara padaku. Aku tak menyangka. Tidak, Ayah. Ia tidak bisu seperti yang kau bilang. Dan katamu ia seorang yang menyeramkan, hingga aku membayangkan perempuan itu sebagai nenek penyihir. Ayah, perempuan itu sangat cantik. Sama cantiknya dengan kedua kupu-kupu itu.
Oya, dia baik juga. Ia memintaku duduk di sisinya. Menemaninya bermain dengan kupu-kupu itu. Dia mengajariku membelai sayap kupu-kupu. Kami bercerita tentang kesukaan kami masing-masing. Dan ternyata, selain menyenangi kupu-kupu, kami juga sama-sama menyukai es krim rasa vanila dengan taburan kacang almond, senang buah apel, dan tidur di antara banyak bantal dan boneka.

***
Kau ingat ceritaku, Ning? Tentang dua ekor kupu-kupu dan seorang perempuan yang jatuh cinta pada mereka? Ah, kurasa kau sudah lupa. Ketika pertama kali kuceritakan ini, kau masih kecil, belum juga TK. Bahkan aku masih ingat, kau memakai terusan jingga dengan hiasan pita merah melingkar di pinggang, bergambar kelinci putih yang mengedipkan matanya di bagian depan. Baju kesukaanmu saat itu. Kau berbaring di tempat tidur. Menatapku. Menunggu dongeng pengantar tidur. Ada segaris senyum tipis di wajah kanakmu yang hening. Sehening namamu, Ning.
Aku rindu menceritakannya lagi padamu. Sembari mengenang masa kecilmu yang penuh cekikik geli atau rengekan manja yang sering membuatku gemas. Anggap saja masa kecilmu tak sanggup mengingat dongeng itu. Dan sekarang, aku akan mengingatkannya kembali untukmu, Ning.
Setiap senja, Ning, di taman dekat sekolah, selalu ada seorang perempuan yang duduk di sudut taman. Ketika langit mulai berwarna jingga, ia hadir di taman itu dan selalu menunggu kedatangan dua ekor kupu-kupu cantik. Ya, keduanya cantik. Yang seekor bersayap hijau dengan serat-serat kecokelatan pada garis guratannya. Kira-kira seperti daging buah avokad yang matang. Dan yang seekor lagi bersayap biru, dengan sedikit bintik-bintik putih. Ya, mirip dengan motif tas tangan ibu di potret keluarga yang ada di ruang tamu. Tak ada yang tahu tentang apa yang dilakukannya bersama kedua kupu-kupu itu setiap senja. Lalu setelah langit kehilangan garis jingga terakhir, kedua kupu-kupu itu pun meninggalkan taman, sebelum malam membuat mata mereka jadi buta. Perempuan itu pun pergi. Berjalan gontai, dengan tundukan kepala yang dalam. Seolah ia ingin sekali melupakan seluruh hari yang pernah dijalaninya.
Orang-orang di sekitar sini tak ada yang mengenalnya. Tak ada yang tahu namanya. Tak ada yang mengerti ia berasal dari keluarga yang mana. Bahkan tak ada yang pernah berbicara dengannya. Walau hanya sekadar perbincangan basa-basi tanpa perkenalan. Orang-orang tak tahu di mana rumahnya. Kemudian setiap senja berakhir, ketika orang-orang mulai sibuk dengan menu makan malam dengan keluarganya masing-masing, perempuan itu seakan-akan menghilang. Tak ada jejak yang bisa menunjukkan keberadaannya.
Bagimu mungkin tak ada yang mengherankan. Seperti juga dirimu yang mencintai kupu-kupu. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada kejadian yang berarti. Sampai kemudian tersiar kabar bila perempuan itu bisu. Karena sempat di suatu pengujung senja, saat perempuan itu meninggalkan taman, seseorang tak sengaja melihatnya lalu menyapanya. Tapi perempuan itu cuma mengangguk tersenyum, tanpa bicara apa-apa.
Lambat laun orang-orang mulai curiga dengan keberadaannya di taman. Orang-orang juga heran dengan keberadaan kedua kupu-kupu itu. Banyak yang menduga bila perempuan itu bisa berbicara dengan kupu-kupu. Hanya dengan kupu-kupu, Ning. Orang-orang pun mulai menyiarkan kabar bila perempuan itu memiliki ilmu hitam. Sejak itu pula orang-orang mulai menjauhinya. Tak ada yang mau datang ke taman dekat sekolah setiap senja. Orang-orang takut akan bertemu dengan perempuan itu bila datang ke sana. Itulah sebabnya, taman dekat sekolah selalu sunyi sebelum senja datang, sebelum langit mengguratkan cahaya jingga di tubuhnya.
Ning, ini bukanlah dongeng seperti yang biasanya kuceritakan sebelum kau tidur. Bukan cerita serupa Putri Rapunzel, Cinderella, Putri dan Biji Kapri, Tiga Babi Kecil, atau cerita Serigala yang Jahat. Tapi ini benar-benar ada. Perempuan itu betul-betul datang setiap senja ke taman dekat sekolah. Ayah sengaja menceritakan ini agar kau tak datang ke taman ketika kau pulang sekolah saat senja.
***
Ning, mengapa kau kemari lagi? Segeralah pulang. Ayahmu akan curiga bila kau selalu pulang terlambat dari sekolah. Kau pun pasti telah mendengar dari orang-orang tentangku. Aku memang kesepian. Gunjingan orang-orang membuatku disingkirkan. Tapi, janganlah kau terlampau sering datang menemuiku. Apalagi bila hanya ingin bermain dengan kupu-kupu yang sering menemaniku. Atau sekadar ingin membawakan aku es krim atau buah apel. Kau bisa bermain dengan kupu-kupu lain yang mungkin lebih cantik dari kedua kupu-kupu di taman ini. Kau juga bisa makan es krim dengan ayahmu. Sedangkan aku sudah terbiasa hidup dalam kesendirian. Setidaknya aku masih bisa menemukan sedikit keributan di taman ini setiap senja. Mendengar kepak sayap burung-burung yang pulang ke sarang, riuh pepohonan menyambut malam yang membawakan selimut tidurnya, bising binatang malam yang bersiap keluar sarang bila malam tiba. Tonggeret, kodok, jangkrik. Jujur saja, aku lebih suka sendiri. Aku tak mau merepotkanmu. Karena suatu saat kau mungkin akan menemui kesulitan hanya karena keberadaanku.
Aku yakin, Ning, suatu saat kau akan menemukan kupu-kupu yang kau sukai. Yang akan selalu menemanimu. Meski ia harus mengalami kelahiran berulang kali sebagai kupu-kupu, untuk menemanimu. Ning, aku tak ingin orang-orang akan ikut bergunjing tentangmu, hanya karena kau menemuiku di sini. Aku tak mau orang-orang menjauhimu, bila mereka tahu kau pernah datang mengunjungiku. Bahkan teman-teman sekolahmu mungkin tak mau lagi berbicara denganmu. Pulanglah, Ning. Aku juga harus bergegas pulang. Matahari telah tampak uzur hari ini. Sudah tiba waktunya bagi kedua kupu-kupu ini untuk tidur.
***
Ayah, senja tadi aku tak melihat kedua kupu-kupu itu di taman. Mungkin mereka sedang tidur. Mungkin mereka tanpa sadar sudah menanggalkan sayapnya, menanggalkan ruhnya, menjadi telur-telur cantik yang akan menetas jadi ulat-ulat cantik warna-warni dan gemuk, dan sebentar lagi bersemayam dalam kepompong putih yang rapuh lalu menjadi kupu-kupu baru yang lebih cantik.
Ayah, aku juga tak melihat perempuan itu. Tak ada seorang pun di taman senja tadi. Aku sudah berkeliling mencarinya. Padahal, aku sudah membeli sebatang cokelat putih untuk kami nikmati bersama-sama. Ayah, apa perempuan itu marah padaku? Apa perempuan itu kesal karena aku sering mengunjunginya? Apa kunjunganku membuat perempuan itu terganggu? Kalau ia memang marah, aku tak mengerti sebabnya. Dia tak pernah marah padaku. Selalu tersenyum bila aku datang, mencium keningku setiap kami berpisah di pertigaan dekat taman ketika kami pulang bersama sehabis senja. Perempuan itu tak pernah mengatakan bila ia terganggu dengan keberadaanku.
Memang perempuan itu pernah melarangku untuk datang menemuinya. Perempuan itu mengatakan bila ia lebih suka sendiri. Tapi aku tak percaya padanya. Aku yakin bila ia tak mau menemuiku karena sebab lain. Karena biasanya wajah perempuan itu selalu tampak riang menyambut kedatanganku. Bila aku berlari menghampirinya, tangannya akan terentang lebar ingin memelukku. Aku tahu ia selalu menunggu kedatanganku.
Ayah, aku rindu pada kedua kupu-kupu itu. Aku juga ingin bertemu dengan perempuan itu. Kuharap kau tidak marah bila aku sering menemuinya. Aku sangat senang bermain dengan mereka. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan bermain lompat tali dengan teman-teman. Ayah, apa kau betul-betul tak mengenal perempuan itu? Apa kau benar-benar tak tahu di mana ia tinggal? Kumohon, antarkan aku ke sana.
***
Ning, lihatlah halaman rumah kita, penuh dengan kupu-kupu mungil warna-warni yang cantik. Sayap mereka berkilauan. Tapi ada tiga kupu-kupu yang lebih besar. Lihatlah, yang dua ekor itu seperti yang kau temui di taman bukan? Dan yang paling besar adalah kupu-kupu yang tercantik dari seluruh kupu-kupu itu. Aku pun baru kali ini melihat kupu-kupu seindah itu, Ning. Warna ungu dan hijau di sayapnya berpadu sangat serasi. Caranya mengepakkan sayap dengan pelan dan lembut. Sangat anggun, seperti ibumu.
Lihat, matamu sampai berkaca-kaca melihatnya. Kau senang bukan, sekarang kau memiliki banyak sekali kupu-kupu yang indah. Kau rindu pada kupu-kupu, kan? Bermainlah bersama mereka, Ning. Aku yakin mereka pun akan senang bermain denganmu.
***
Tidak. Aku tak ingin bermain bersama mereka. Lihatlah kupu-kupu yang paling besar itu. Kupu-kupu itu memang yang paling cantik. Tapi, warnanya persis sama dengan warna gaun perempuan itu ketika terakhir kali aku menemuinya. Perempuan itu, Ayah. Aku tak mau ia berubah menjadi kupu-kupu hanya untuk menemaniku. Biar saja kupu-kupu lainnya meninggalkanku, asalkan perempuan itu tetap ada untukku. Aku tak ingin bermain dengan kupu-kupu. Aku ingin perempuan itu, Ayah. Hanya perempuan itu. Aku hanya ingin ibuku.

Yogyakarta, 2006