Jumat, 06 Mei 2011

TUGAS DAN WEWENANG ORNAMEN SEKOLAH

Tanggung Jawab dan Wewenang

Tanggungjawab

Wewenang

Posisi Yang berwenang

Dilaporkan Kepada

Jika tidak ada didelegasikan

Hubungan Dengan Unit Kerja

Kebijakan Mutu

Pengesahan dan perubahan

Kepala Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan

Waka yang di- tunjuk

Semua unit kerja

Pengendalian implementasi ISO

Mengendalikan mutu lulusan

Kepala Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan

WMM

Semua unit kerja

Penerimaan siswa baru (PSB)

Perencanaan, seleksi, verifikasi dan pengumuman

Wk. Kesiswaan

Kepala Sekolah Diteruskan Kepada Dinas P&K

Panitia PSB

Semua unit kerja

Proses Pembelajaran

Perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pelaporan

Wk. Kurikulum

Kepala Sekolah

Ka Prog yang ditunjuk

Semua unit kerja

Pengembangan Fasilitas

Perencanaan, pelaksanaan, M&R dan

Inventarisasi

Wk. Sarpras

Kepala Sekolah

Tim yang terkait

Semua unit kerja

Pengembangan Sumber Daya Manusia

Perencanaan, penyiapan

Wk. Kurikulum

& Personalia, Tatausaha

Kepala Sekolah

Tim yang terkait

Semua unit kerja

Bursa Kerja Khusus, Prakerin

Perencanaan, pelaksanaan, penelusuran, penyaluran

Wk. Humas

Kepala Sekolah

BKK, Koordinator

Prakerin

Semua unit kerja


3.3. Uraian Jabatan

3.3.1. Kepala Sekolah

Nama Jabatan/Fungsi : Kepala Sekolah

Bertanggungjawab kepada : Kepala Dinas Pendidikan Kota

Berhubungan dengan :

1.Semua unit kerja SMK

2.Pemkab dan Dinas P dan K Kabupaten

3.Dinas P dan K Propinsi

4.Direktorat Pembinaan SMK

5.Du/Di

6.Komite Sekolah

Tanggung Jawab :

1. Menjaga terlaksananya dan ketercapaian program kerja sekolah

2. Menjaga keterlaksanaan Pedoman Mutu Sekolah.

3. Menjabarkan, melaksanakan dan mengembangkan Pembelajaran Kurikulum/Program SMK.

4. Mengembangkan SDM.

5. Melakukan pengawasan dan supervisi tenaga pendidik dan kependidikan.

6. Melakukan hubungan kerjasama dengan pihak luar

7. Merencanakan, mengelola dan mempertanggung jawabkan keuangan

8. Mengangkat dan menetapkan personal struktur organisasi.

9. Menetapkan Program Kerja Sekolah

10. Mengesahkan perubahan kebijakan mutu organisasi

11. Melegalisasi dokumen organisasi

12. Memutuskan mutasi siswa

13. Mengusulkan promosi dan mutasi pendidik dan tenaga kependidikan

Wewenang :

1. Menerbitkan dokumen yang dikeluarkan sekolah.

2. Memberi pembinaan warga sekolah

3. Memberi penghargaan dan sanksi

4. Memberi penilaian kinerja pendidik dan tenaga kependidikan

3.3.2. Wakil Manajemen Mutu

Nama Jabatan/Fungsi : Wakil Manajemen Mutu

Bertanggungjawab Kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : Semua Unit Kerja

Tanggung Jawab

  1. Menyusun program kerja kegiatan SMM ISO 9001 - 2000
  2. Merencanakan dan memantau program audit
  3. Mengidentifikasi dan mengelola program-program untuk perbaikan sistem mutu
  4. Menentukan apakah kebijakan dan aktifitas yang diajukan telah memenuhi persyaratan ISO 9001 : 2000, apakah sesuai dengan produk yang ditawarkan, apakah diterapkan dengan benar, apakah ketidaksesuaian telah diperbaiki
  5. Melaporkan kepada Kepala Sekolah kondisi dan status dari penerapan sistem manajemen mutu
  6. Menyusun Prosedur Mutu yang diketahui oleh Kepala Sekolah
  7. Mengadakan Penelitian, Pengembangan tentang Mutu secara pereodik 1 tahun dua kali

Wewenang

1. Mengimplementasikan sistem mutu

2. Meninjau sistem mutu


3.3.3. Wakasek Kurikulum/Program

Nama Jabatan/Fungsi : Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum

Bertanggungjawab kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : Semua unit kerja

Tanggungjawab:

  1. Menyusun program kerja bidang Kurikulum/Program
  2. Mengkoordinasikan pelaksanaan dan pengembangan Kurikulum/Program
  3. Memantau pelaksanaan Pembelajaran
  4. Menyelenggarakan rapat koordinasi Kurikulum
  5. Mengkoordinasikan pengelolaan perpustakaan
  6. Mengkoordinasikan pelaksanaan evaluasi pembelajaran
  7. Menyusun kalender pendidikan dan jadual pembelajaran
  8. Melaporkan hasil pelaksanaan Pembelajaran
  9. Mengusulkan tugas mengajar pada masing-masing guru
  10. Menghitung dan melaporkan jam mengajar guru
  11. Merencanakan kebutuhan tenaga pendidik dan kependidikan

Wewenang :

  1. Memeriksa, menyetujui rencana pembelajaran tiap program Pembelajaran
  2. Memverifikasi Kurikulum
  3. Merencanakan dan melaksanakan bimbingan belajar dan try out kelas 3

3.3.4. Wakasek Humas/Hubin

Nama Jabatan/Fungsi : Wakil Kepala Sekolah Humas dan Industri

Bertanggungjawab kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : 1. Semua Unit Kerja di SMK

2. Masyarakat dan industri

Tanggungjawab :

  1. Menyusun program kerja dan anggaran Humas
  2. Membantu komite dalam pengembangan sekolah
  3. Menfasilitasi hubungan antar warga sekolah dan komite
  4. Mengkoordinasikan pelaksanaan promosi sekolah
  5. Memetakan DU / DI
  6. Mengkoordinasikan pelaksanaan praktik kerja industri (prakerin)
  7. Mengkoordinasikan pelaksanaan ujian kompetensi produktif
  8. Mengkoordinasikan penelusuran lulusan

Wewenang:

  1. Memeriksa dan menyetujui rencana praktik kerja industri tiap program keahlian
  2. Melakukan verifikasi kelayakan institusi pasangan
  3. Memberikan pembekalan praktik kerja industri untuk siswa dan orang tua/wali murid
  4. Pengantaran ,Memonitoring dan Penjemputan peserta didik prakerin
  5. Menyelesaikan permasalahan (apabila ada) selama pelaksanaan prakerin
  6. Mengkoordinasikan kegiatan Bursa Kerja Khusus
  7. Reorientasi peserta didik yang selesai prakerin

Wakasek Kesiswaan

Nama Jabatan/Fungsi : Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan

Bertanggungjawab kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : 1. Semua Unit Kerja

2. Organisasi Kesiswaan

Tanggungjawab :

  1. Membuat program kerja pembinaan kesiswaan
  2. Mengkoordinasikan PSB ( Penerimaan Siswa Baru )
  3. Mengkoordinasikan pelaksanaan Masa Orientasi peserta didik (MOS)
  4. Mengkoordinasikan pemilihan kepengurusan dan diklat OSIS
  5. Mengkoordinasikan penjaringan dan pendistribusian semua bentuk beasiswa
  6. Mengkoordinasikan pelaksanaan 4 K2 (ketertiban, kedisiplinan, keamanan, dan kekeluargaan)
  7. Membina program kegiatan OSIS
  8. Memeriksa dan menyetujui rencana kerja pengurus Osis

Wewenang :

  1. Melakukan tindakan terhadap siswa terkait pelanggaran tata tertib siswa
  2. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan lomba
  3. Mengkoordinasikan ekstra kurikuler
  4. Mengkoordinasikan peringatan hari-hari besar

3.3.6. Wakasek Sarana Prasarana

Nama Jabatan/Fungsi : Wakil Kepala Sekolah Sarana dan

Prasarana

Bertanggungjawab kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : Semua Unit Kerja

Tanggungjawab :

  1. Membuat program kerja sarana dan prasarana sekolah
  2. Mengkoordinasikan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah
  3. Mengkoordinasikan iventarisasi sarana dan prasarana sekolah
  4. Melaksanakan pengawasan terhadap penggunaan sarana dan prasarana sekolah
  5. Mengkoordinasikan pelaksanaan 4 K1 (Kebersihan, Kerindangan, Keindahan, Kesehatan)
  6. Memeriksa dan merekomendasikan rencana kebutuhan sarana dan prasarana tiap unit kerja

Wewenang:

  1. Mengkoordinasikan pelaksanaan dan pengadaan bahan praktik serta perlengkapan sekolah
  2. Mengkoordinasikan pelaksanaan pemeliharaan dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah
  3. Melakukan verifikasi dan memilih rekanan kerja

3.3.7. Koordinator. Tata Usaha

Nama Jabatan/Fungsi : Koordinator Tata Usaha

Bertanggung jawab kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : Semua Unit Kerja

Tanggung jawab:

  1. Menyusun program kerja tata usaha sekolah
  2. Mendata dan mengajukan kesejahteraan bagi pendidik dan tenaga kependidikan
  3. Mengkoordinasikan urusan administrasi sekolah
  4. Menyusun laporan ketatausahaan secara berkala
  5. Melakukan koordinasi rekrutmen sumber daya manusia (Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
  6. Mengkoordinasikan keuangan rutin sekolah
  7. Melaporkan pertanggung jawaban keuangan rutin sekolah

Wewenang:

  1. Menegur staf /tenaga kependidikan yang tidak melaksanakan tugas
  2. Memberi ijin, cuti staf tata usaha
  3. Memanggil tenaga kependidikan terkait administrasi kepegawaian
  4. Memanggil tenaga pendidik seijin Kepala Sekolah terkait administrasi kepegawaian


3.3.7. Ketua Program Keahlian

Nama Jabatan/Fungsi : Ketua Program Keahlian ( Kaprog )

Bertanggungjawab kepada : Kepala Sekolah

Berhubungan dengan : Semua unit kerja

Tanggung jawab :

  1. Menyusun program kerja
  2. Mengkoordinasikan tugas guru dalam pembelajaran
  3. Mengkoordinasikan pengembangan bahan ajar
  4. Memetakan kebutuhan sumber daya untuk pembelajaran
  5. Memetakan dunia industri yang relevan
  6. Mengkoordinasikan program praktik kerja industri
  7. Melaksanakan ujian produktif
  8. Menginventarisasi fasilitas pembelajaran program keahlian
  9. Melaporkan ketercapaian program kerja

Wewenang :

  1. Melakukan langkah-langkah efisien dan efektif guna kelancaran pembelajaran di program keahlian
  2. Memberi masukan penilaian kinerja pendidik
  3. Memberi sanksi kepada siswa yang melanggar tata tertib.
  4. Mengusulkan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan
  5. Mengusulkan kebutuhan bahan dan peralatan pembelajaran
  6. Mengusulkan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan program keahlian

Jumat, 29 April 2011

HAKIKAT DAN UNSUR PUISI


1. Pengertian

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.

(1) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.

(2) Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.

(3) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

(4) Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).

(5) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.



2. Unsur-unsur Puisi

Berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi.

(1) Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari (1) hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.

(2) Waluyo (1987) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.

(3) Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) sifat puisi, (2) bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) bentuk: nilai bunyi, verifikasi, bentuk, dan makna, (4) isi: narasi, emosi, dan tema.

(4) Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27) menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi.

(5) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi (1) diksi, (2) imajeri, (3) bahasa kiasan, (4) simbol, (5) bunyi, (6) ritme, (7) bentuk (Badrun, 1989:6).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada, (3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7) bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). Djojosuroto (2004:35) menggambarkan sebagai berikut.



Gambar 1. Puisi sebagai struktur

Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991:55-65) menjelaskan unsur-unsur puisi sebagai berikut.



2.1 Struktur Fisik Puisi

Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.

(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)

(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutardji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

2.2 Struktur Batin Puisi

Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut.

(1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

(2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

(3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

KATA ULANG (REDUPLIKASI)

  1. Bentuk Kata Ulang
    Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibagi sebagai berikut.
    1. Kata ulang penuh atau kata ulang murni, yaitu semua kata ulang yang dihasilkan oleh perulangan unsur-unsurnya secara penuh.
      Misalnya: rumah-rumah, sakit-sakit.
    2. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan, yaitu semua kata ulang yang salah satu unsurnya berimbuan: awalan, sisipan, atau akhiran.
      Misalnya: berjalan-jalan, turun-temurun, tanam-tanaman.
    3. Kata ulang berubah bunyi, yaitu kata ulang yang mengalami perubahan bunyi pada unsur pertama atau unsur kedua kata ulang.
      Misalnya: bolak-balik, serba-serbi.
    4. Kata ulang semu, yaitu kata yang hanya dijumpai dalam bentuk ulang itu. Jika tidak diulang, komponennya tidak memunyai makna atau bisa juga memunyai makna lain yang tidak ada hubungannya dengan kata ulang tersebut.
      Misalnya: hati-hati, tiba-tiba, kunang-kunang.
    5. Kata ulang dwipurwa, yang berarti "dahulu dua" atau kata ulang yang berasal dari komponen yang semula diulang kemudian berubah menjadi sepatah kata dengan bentuk seperti itu. Kata ulang ini disebut juga reduplikasi, yang berasal dari bahasa Inggris "reduplication" yang berarti perulangan. Sebenarnya semua kata ulang juga dapat disebut reduplikasi.
      Misalnya: lelaki, tetua.

  1. Makna dan Fungsi Kata Ulang
    1. Perulangan kata benda
      Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata benda.
      1. Menyatakan benda itu bermacam-macam. Misalnya: buah-buahan, sayur-sayuran.
      2. Menyatakan benda yang menyerupai bentuk dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
    2. Perulangan kata kerja
      Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata kerja.
      1. Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali.
        Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
      2. Menyatakan aspek duratif, yaitu proses pekerjaan, pembuatan, atau keadaan yang berlangsung lama.
        Misalnya: berenang-renang, duduk-duduk.
      3. Menyatakan bermacam-macam pekerjaan.
        Misalnya: cetak-mencetak, karang-mengarang.
      4. menyatakan pekerjaan yang dilakukan oleh dua belah pikak atau berbalasan.
        Misalnya: tembak-menembak, tuduh-menuduh

    1. Perulangan kata sifat
      Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata sifat.
      1. Menyatakan makna lebih (intensitas).
        Misalnya: Berjalan cepat-cepat! Kerjakan baik-baik!
      2. Menyatakan makna sampai atau pernah.
        Misalnya: Tak sembuh-sembuh sakitnya walaupun ia sudah berobat ke luar negeri (tak pernah sembuh). Habis-habisan ia berbelanja (sampai habis).
      3. Digabungkan dengan awalan se- dan akhiran -nya mengandung makna superlatif (paling).
        Misalnya: Kerjakan sebaik-baiknya agar hasilnya memuaskan. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya.
      4. Berlawanan dengan makna nomor satu atau melemahkan arti kata sifat itu.
        Misalnya: Badanku sakit-sakit saja rasanya. (sakit di sana-sini, tapi tidak terlalu sakit) Kalau kepalamu pening-pening, bawalah tidur. (agak pening; pening sedikit)
      5. Bentuk yang seolah-olah sudah mejadi ungkapan dalam bahasa Indonesia, makna perulangannya kurang jelas.
        Misalnya: Jangan menakut-nakuti anak-anak karena akan memengaruhi jiwanya kelak.

    1. Perulangan kata bilangan
      1. Perulangan kata satu menjadi satu-satu memberi makna "satu demi satu".
        Misalnya: Peserta ujian masuk ruangan itu satu-satu.
      2. Perulangan kata satu dengan tambahan akhiran -nya memberi makna "hanya satu itu".
        Misalnya: Ini anak saya satu-satunya.
      3. Perulangan kata dua-dua, tiga-tiga, dst. memberi pengertian "sekaligus dua, tiga, dst.".
        Misalnya: Jangan masuk dua-dua karena pintu itu tidak lebar.
      4. Bentuk perulangan berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, dst. menyatakan makna "kelipatan sepuluh, seratus, seribu, dst..
        Misalnya: Beribu-ribu orang yang mati dalam peperangan itu.
        Bentuk perulangan kata bilangan dengan awalan ber-, saat ini sering diganti dengan bentukan dengan akhiran -an. Misalnya: berpuluh-puluh menjadi puluhan.

Kamis, 28 April 2011

TEKNIK MENULIS BERITA


· Berita ialah peristiwa yang telah dimuat dalam suatu media cetak, atau disiarkan lewat radio atau televisi.

· Kriteria Kelayakan Berita

Kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi berita, antara lain:

1. Penting.

Pengesahan RUU Sisdiknas adalah penting, karena menyangkut kepentingan rakyat banyak, yang menjadi pembaca media bersangkutan. Maka layak jadi berita. Ini juga relatif tergantung dari khalayak pembaca yang dituju. Isu Amien Rais menjadi calon presiden tentu penting untuk dimuat di Harian Republika, tetapi kurang penting dimuat di Majalah Gadis, karena khalayak pembacanya berbeda.

2. Baru terjadi, bukan peristiwa lama.

Peristiwa yang telah terjadi pada 10 tahun yang lalu jelas tidak bisa jadi berita.

3. Unik, bukan sesuatu yang biasa.

Seorang mahasiswa yang kuliah tiap hari adalah peristiwa biasa. Tetapi jika mahasiswa berkelahi dengan dosen di dalam ruang kuliah, itu luar biasa.

4. Asas keterkenalan.

Kalau mobil anda ditabrak mobil lain, tidak pantas jadi berita. Tetapi kalau mobil yang ditumpangi putri Diana ditabrak mobil lain, itu jadi berita dunia.

5. Asas kedekatan. Asas kedekatan ini bisa diukur secara geografis maupun kedekatan emosial. Banjir di Cina yang telah menghanyutkan ratusan orang, masih kalah nilai beritanya dibandingkan banjir yang melanda Jakarta, karena lebih dekat dengan kita.

6. Magnitude

(dampak dari suatu peristiwa). Demonstrasi yang dilakukan oleh 10.000 mahasiswa tentu lebih besar magnitudenya dibanding demonstrasi oleh 100 mahasiswa.

7. Trend.

Sesuatu bisa menjadi berita ketika menjadi kecenderungan yang meluas dimasyarakat. Misalnya, sekarang orang mudah marah dan mudah membunuh pelaku kejahatan kecil (pencuri, pencopet) dengan cara dibakar hidup-hidup.

  • Unsur-Unsur Suatu Berita

- 5 W + 1 H (Who, What, Where, When, Why) + How. Atau : (Siapa, Apa, Dimana, Kapan, Mengapa) + Bagaimana

- Kriteria Khusus:

1. kebijakan redaksional/misi media.

2. Pendekatan keamanan (ancaman pembredelan, dan sebagainya). Berita yang mengkritik keras korupsi dan kolusi antara penguasa dan pengusaha bisa berujung pada pembredelan atau teguran terhadap media yang bersangkutan.

3. kepekaan masyarakat pembaca dan kemungkinan dampak negatif berita terhadap pembaca. Misalnya untuk isu-isu yang menyangkut SARA (suku, Agama, Ras, dan antar golongan). Atau bisa menyinggung perasaan atau martabat pembaca.

· Beberapa Macam Berita:

1. Hard News/Straight News:

- berita yang lugas, singkat, langsung ke pokok persoalan dan fakta-faktanya.

- Biasanya harus memenuhi unsur 5W+1H secara ketat dan harus cepat-cepat dimuat, karena terlambat sedikit bisa basi.

- Istilah Hard News lebih mengacu pada isi berita.

- Istilah Straight News lebih mengacu pada cara penulisannya (struktur penulisanya).

- Hard news/straight news biasanya ditulis dalam bentuk struktur “piramida terbalik” yakni inti berita ditulis pada bagian paling awal, dan hal-hal yang tidak penting ditulis belakangan.

2. Soft News:

- berita yang dari segi struktur penulisannya relatif lebih luwes, dan dari segi isi tidak terlalu berat.

- Umumnya tidak terlalu lugas, tidak kaku, atau ketat khususnya dalam soal waktunya.

- Dari segi bentuknya, soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua:

a. News Features. News Feature adalah Feature yang mengandung unsur berita. Misalnya tulisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan Tommy Suharto oleh polisi, yang diawali dengan penyadapan telepon dengan bantuan Roy Suryo seorang pakar Multimedia dan Komunikasi, pembongkaran ruang bawah tanah, sampai proses tertangkapnya disajikan secara seru, menarik, dan dramatis. Seperti menonton film saja.

b. Feature. Feature adalah teknik penulisan yang khas berbentuk luwes, tahan lama, menarik, strukturnya tidak kaku, dan biasanya megangkat aspek kemanusiaan. Pada hakekatnya penulisan feature adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, ia menghidupkan imajinasi pembaca, ia menarik pembaca kedalam cerita dengan mengidentififkasikan diri dengan tokoh utama. Panjang tulisan feature bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik.

- Soft news, News Feature dan Feature ditulis dengan gaya yang tidak kaku.

- Hal-hal yang penting bisa ditulis di bagian awal, namun juga tidak mutlak.

Penulisan Judul

· Judul merupakan inti dari teras berita.

· Kriteria judul yang baik :

- jelas, mudah dimengerti dengan sekali baca dan menarik, sehingga mendorong pembaca untuk mengetahui lebih lanjut isi tulisan.

- harus “menggigit”, perlu kejelasan makna asosiatif setiap unsur Subyek, Obyek, dan Keterangan.

- Panjang judul maksimal dua baris terdiri atas empat hingga enam kata.

- Semua kata di dalam judul dimulai dengan huruf besar, kecuali kata sambung seperti dan, di, yang, bila, dalam, pada, oleh, dan kata tugas lainnya yang ditentukan redaksi.

- Penulisan judul tidak boleh dimulai dengan angka.

- Hindari penggunaan singkatan yang tidak populer. Judul bersifat tenang dan tidak bombastis.